>Dengan Dolanan Anak Capai Prestasi

>

–Jaman dahulu memainkan dolanan seperti dakon, cing ciripit, ingkling merupakan aktivitas yang sering dilakukan oleh anak-anak usia SD bahkan SMP. Namun saat ini cobalah lihat disekitar anda, apakah permainan tradisional itu masih banyak yang memainkannya? faktor kapitalisme disinyalir telah mengikis kemudian diganti oleh permainan instant seperi video game.
Ide untuk memperkenalkan dolanan anak menjadi inspirasi Adi Rahmadi untuk menyutradarai sebuah karya teater dengan judul Dolanan Anak. Ia bersama belasan teman lain mementaskan naskah tersebut dalam sebuah acara yang bertajuk Festival Teater tingkat Mahasiswa Nasional. Acara yang telah digelar untuk yang kelima kalinya ini membawa Teater Gadjah Mada menjadi juara umum.
Adi dan 5 teman lainnya telah membuktikan bahwa pementasan aDolanan Anak tersebut ternyata mampu menyihir penonton dan akhirnya bisa mendapatkan 11 tropi. Sembilan diantaranya adalah tropi predikat individu dan dua yang lain merupakan kejuaraan Tim. Cerita yang ditulis oleh Erlina Rahmawati ini ternyata mendapatkan respon positif dari audience yang menyaksikan pagelaran tersebut di Palembang.
Perjuangan menuju juara ternyata tidak mudah. Vera menceritakan bahwa pada awalnya seleksi naskah diikuti oleh 125 pesertya dari PTN dan PTS se-Indonesia. Kemudian diambil 10 finalis untuk dipentaskan dicara Festamasio 5 itu. Gadis yang juga mandapatkan juara predikat aktris terbaik tersebut juga memberikan penjelasan mengenai keperihatinan yang selama ini terjadi.
Kapitalisme telah menggerus dolanan tradisional yang dulu pernah eksis di jamannya. Bila kita lihat, isi dari permainan itu banyak yang mengandung unsur edukatif. Menurut Direktur Kemahasiswaan UGM Bp. Drs. Haryanto, M. Si. dolanan anak merupakan sebuah permainan yang bisa membentuk karakter. Dengan melakukan permainan tersebut, anak-anak secara tidak langsung telah mendapatkan pelajaran untuk bersosialisasi dengan orang yang ada disekitarnya. Sehingga diharapkan, dengan adanya kejuaraan yang diperoleh Teater Gadjah Mada, dapat memicu kita untuk kembali mengidupkan dan melestarikan permainan yang bersifat positif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: