>Balawan Hipnotis Dosen Cantik

>

Dosen cantik yang juga penyanyi jazz AS, Morgen Stiegler, mengaku bahagia atas kunjungan gitaris I Wayan Balawan serta dua pemain gamelan Bali I Nyoman Suarsana dan I Nyoman Suwida ke kelas world music-nya di College of Musical Arts, Bowling Green State University (BGSU), Ohio, Kamis (17/3/2011) waktu setempat. Menurut Stiegler, para mahasiswanya begitu bersemangat mengikuti Balawan Cs membagi pengalaman bermusik kepada mereka.
Diterangkan oleh Stiegler, para peserta kelas world music-nya bukanlah mereka yang memiliki pengetahuan musik yang dalam dan luas. Kuliah itu memang bertujuan untuk mengenalkan keragaman musik di seluruh dunia kepada para mahasiswa dari berbagai bidang ilmu di luar musik di BGSU. “Mereka yang ikut kelas ini bukan para mahasiswa dengan kuliah-kuliah pengutamaan musik. Mereka cuma tahu sedikit tentang musik. Mereka tidak mendengarkan banyak macam musik. Mereka cuma biasa mendengarkan musik yang diperdengarkan di radio,” tutur Stiegler.
Pengalaman bermusik yang dibagi oleh Balawan dan kawan-kawan, kata Stiegler, penting bagi para peserta kuliah itu dalam rangka mendapat pengetahuan mengenai keragaman musik di seluruh dunia, di luar musik yang sehari-hari biasa mereka nikmati dari radio, televisi, dan internet.
Nyatanya pun, kata Stiegler lagi, para mahasiswanya menyambut hangat kehadiran Balawan dan teman-teman. “Mereka (para peserta kelas tersebut) begitu bersemangat,” tuturnya lagi. Kelas itu diikuti oleh kurang-lebih 60 mahasiswa. Di hadapan mereka, Balawan–dengan bumbu banyolan–bercerita singkat mengenai musiknya serta masyarakat dan budaya asalnya, Bali.
Balawan juga mengisahkan secara ringkas perjalanan bermusiknya–dari bocah enam tahun yang karena tradisi mau tak mau harus bermain gamelan di kampung halamannya, Batuan (Sukawati, Gianyar, Bali); remaja yang bergaul dengan gitar elektrik dan membentuk band rock lokal; hingga menjadi gitaris lulusan Australia Institute of Music, Sydney, yang terkenal dengan gitar elektrik double neck dan teknik permainan tapping serta membentuk Batuan Ethnic Fusion, grup yang memadukan musik “Barat”, terutama jazz, dengan musik etnik Bali.
Untuk kegiatan tersebut, Balawan–yang membuat suasana segar dengan humornya–memboyong gitar elektrik double neck-nya berikut beraneka sound effect-nya. Sementara itu, Suwida dan Suarsana membawa dua alat musik gamelan mereka, yaitu tingklik dan gangsa, serta beberapa “aksesori” lain gamelan. Dengan alat-alat musik tersebut, Balawan Cs memberi contoh tentang musik mereka, antara lain soal bagaimana permainan gitar Balawan berpadu dengan permainan gamelan Suarsana dan Suwida dan mengenai bagaimana Suwida dan Suarsana berduet cepat memainkan gangsa.
Para peserta kuliah itu pun memeroleh kesempatan untuk bertanya kepada Balawan dan kawan-kawan. Karena, seperti kata Stiegler, mereka tak berlatar belakang pengetahuan musik yang luas dan dalam, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan pun sederhana. Bahkan, ada yang bertanya soal Balawan memikat perempuan dengan musik dan permainan gitarnya. Menjelang ujung kegiatan itu, SuwIda mengajarkan “paduan suara” Tari Kecak kepada para mahasiswa. Selain itu, Suarsana mengajak salah seorang peserta kuliah tersebut untuk mengikuti gerak tarinya.
Lalu, Balawan dan teman-teman memberi kesempatan kepada para mahasiswa untuk mencoba memainkan gangsa bersama Suwida. “Ayo coba, jangan malu-malu,” ajak Balawan. “Tidak ada yang boleh keluar dari kelas ini sebelum ada yang bisa memainkan gangsa dengan benar,” sambungnya dengan canda.
Siapa yang akhirnya bisa  bermain gangsa dengan benar di kelas itu? Stiegler. Sebagai penutup kegiatan tersebut, Balawan Cs beserta Stiegler dan para peserta kuliah itu berfoto bersama sembari mengangkat kedua tangan mereka ke atas seperti dalam Tari Kecak.
Selepas dari kegiatan-kegiatan Other Minds Music Festival 2011, yang digelar pada 27 Februari-5 Maret lalu di San Francisco (California, AS), Balawan Cs memang bergerak dari universitas ke universitas di beberapa negara bagian AS, yaitu Madison (Wisconsin); Denver, Boulder, dan Colorado Springs (Colorado); Ann Arbor (Michigan); serta Bowling Green, Oberlin, dan Gambier (Ohio).
Mereka manggung di University of Wisconsin at Madison, University of Colorado at Boulder, University of Colorado at Colorado Springs, University of Michigan at Ann Arbor, Bowling Green State University (BGSU), dan Oberlin College. Selain itu, mereka mengadakan workshop dan kegiatan membagi pengalaman di University of Colorado at Denver, University of Colorado at Colorado Springs, BGSU, dan Oberlin College.
Para peserta workshop dan kegiatan membagi pengalaman itu beragam. Di University of Colorado at Denver (11/3/2011 pagi waktu setempat), workshopdiadakan di sebuah kelas gitar. Karena itu, yang hadir, jumlahnya belasan, merupakan mahasiswa yang belajar gitar.
Di University of Colorado at Colorado Springs (15/3/2011 siang waktu lokal), kegiatan membagi pengalaman dilakukan di sebuah teater. Sayangnya, karena kurang dipromosikan oleh penyelenggara setempat dan diadakan di tengah kesibukan kuliah menjelang spring break, kegiatan itu dihadiri oleh cuma empat mahasiswa, termasuk satu orang dari Indonesia.
Di BGSU, Kamis (17/3/2011) siang waktu setempat, sebelum kegiatan membagi pengalaman kepada para peserta kelas world music dengan dosen Stiegler,workshop diadakan untuk ensemble gamelan Bali Kusuma Sari, yang beranggota sejumlah mahasiswa dan dosen non-Indonesia. Pada Jumat (18/3/2011) pagi,workshop diadakan di Oberlin College, sebelum Balawan dan teman-teman malamnya tampil di sebuah kapel bernama Fairchild Chapel, Oberlin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: